Home » , » Kesenian Wayang, Warisan Nusantara yang Mendunia

Kesenian Wayang, Warisan Nusantara yang Mendunia

Written By Hary on Thursday, July 4, 2013 | 4:12 PM

Wayang merupakan warisan budaya nusantara sekaligus warisan budaya dunia. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengakui dan menetapkan wayang sebagai world herritage pada 7 Nopember 2003. Sayang, pengakuan organisasi dunia pendidikan itu belum sepenuhnya direspon oleh negara. Terutama dalam pengembangan dan pelestarian wayang sebagai budaya tradisi. Alhasil, wayang nyaris tergilas oleh budaya asing yang semakin gencar ditengah-tengah budaya lokal.

===============
Wayang sebagai salah satu kesenian yang sering dipagelarkan menjadi tontonan menarik yang penuh estetika. Sebenarnya, kesenian wayang mempunyai potensi besar bagi perkembangan kebudayaan, ekonomi kreatif dan pariwisata. Namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kata wayang berasal dari Wa dan Hyang, artinya leluhur. Namun adanya juga yang menyebutkan wayang berarti bayangan. Sebagai budaya seni tradisi, wayang mampu menjadi inspirasi dari nilai-nilai dalam budaya ide, gagasan, ekspresi dan prilaku. Bahkan wayang juga mampu menjadi sumber identitas dan perekat dari komponen masyarakat. Wayang juga memiliki berbagai jenis diantaranya wayang kulit, wayang kayu, wayang orang, dan wayang rumput.
“Fungsi wayang mampu sebagai perekat dan relasi dari komponen masyarakat,” kata Dewan Pakar Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) Sumanto kepada Sumatera Ekspres beberapa waktu lalu. Menurutnya, masih diperlukan peningkatan kesadaran yang tinggi dari semua segenap bangsa untuk menghargai wayang sebagai salah satu bagian budaya bangsa yang patut dilestarikan.
Dijelaskan, kesenian wayang merupakan salah satu media menyebarkan nilai-nilai etika dan budi pekerti dalam membangun karakter bangsa. Banyak nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan dalam kisah pewayangan. “Contohnya tentang kesetiaan. Arti kesetiaan itu pun luas, dapat dikembangkan menjadi setia pada negara, setia pada masyarakat, teman dan lainnya. Sebagai bangsa kita harus terus mengapresiasi kesenian budaya kita,” tegasnya.
Sumanto mengatakan, pagelaran kesenian wayang tidak hanya sekedar sarana hiburan saja. Wayang bisa menjadi media dakwah, pendidikan hingga kritik sosial. Sehingga kesenian wayang sama seperti kesenian tradisional lainnya yang juga punya segmen masing-masing. “Jadi, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menyenangi kesenian wayang. Sebab, setiap orang mempunyai rasanya sendiri. Ada orang yang senang dan ada pula yang tidak. Itu berlaku untuk bidang kesenian apapun,” jelasnya.
Diakuinya, kesenian wayang pada umumnya digemari oleh kalangan tertentu pada masyarakat Jawa. Karena mereka senang sehingga mengerti tentang kesenian wayang. Namun, sekarang antusias terhadap kesenian wayang itu juga digemari generasi muda.
“Sekarang kalau saya perhatikan antusias generasi muda kita sudah cukup bagus. Contohnya, nanti ada acara di Solo soal wayang. Nah, yang mendaftarnya sudah mencapai 150 orang. Kita sebagai generasi tua memang sudah harus mempunyai kewajiban untuk membimbing mereka,” ujar Sumanto yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu.
Sejauh ini, terangnya, telah terdapat perguruan tinggi yang membuka program studi dengan jurusan pedalangan di Indonesia. Seperti ISI Jogyakarta, ISI Denpasar, ISI Bandung dan ISI Surakarta. “Itu bagian dari bentuk pelestarian kesenian wayang melalui pendidikan. Kita harapkan nanti penerus kesenian ini dapat terus bertambah sehingga wayang dapat dipelajari dan dikuasai setiap orang,” tuturnya.
Untuk menjadi seorang dalang yang baik, Sumanto menjelaskan, yang harus ditekankan adalah ketekunan dan kemauan belajar. Ada beberapa hal yang juga diperhatikan oleh seorang dalang. Diantaranya, menguasai sisi teknik seperti menguasai keprakan dan dodogan. Lalu, mempunyai kemampuan membedakan dialog satu dengan yang lain, dan mempunyai kemampuan menggarap cerita atau lakon sehingga menarik.
“Jadi seorang dalang itu tidak hanya sekedar tahu alur ceritanya. Tetapi dapat melakukan improvisasi terhadap cerita itu sehingga mempunyai ruh yang dapat membuat penonton terhanyut dalam cerita yang dibawakan. Juga sebuah cerita memiliki misi yang disampaikan. Pada akhirnya dalang itu dapat membuat lakonnya sendiri,” terang Sumanto.
Pada umumnya, lakon yang paling sering dibawakan adalah cerita Mahabrata dan Ramayana. Oleh karena itu, inovasi dan kreasi wayang sangat dibutuhkan agar wayang tidak ditinggal penonton serta perlu adanya regenerasi penonton wayang. “Jika tidak, maka wayang kehilangan massanya,” tegasnya.
Sebab cerita atau lakon dan pesan sosial yang disampaikan cenderung berat. Bahkan pertunjukan wayang bercorak konvensional, durasi wayang terlalu lama dan frekuensi pergelaran wayang terhitung masih rendah. “Kita berusaha mendorong wayang untuk memasuki ekonomi kreatif yang memiliki basis penonton, pasar dan berbasis budaya yang berorientasi nilai,” pungkasnya. (cin)


Share this article :