Home » , » Muratara Kembali Membara

Muratara Kembali Membara

Written By Hary on Thursday, July 4, 2013 | 4:09 PM



MURATARA - Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Muara Rupit dan Rawas Ulu kembali dibakar massa. Jika sebelumnya, Senin, 29 April 2013 lalu, pembakaran dipicu oleh bentrok aparat dengan peserta aksi yang menuntut agar pemerintah pusat segera menyetujui pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Musi Rawas Utara (Muratara), kemarin (2/7), insiden serupa terjadi.
     Sekitar pukul 17.00 WIB, massa membakar gedung Mapolsek Rupit yang dulu pernah dibakar dan sekarang tahap rehab, juga gedung lain, tempat personel Mapolsek Rupit ngantor sementara. Usai membakar Polsek Rupit, massa bergerak dan membakar Polsek Rawas Ulu.
     Tidak ada korban tewas dalam kejadian tersebut. Hanya, hingga berita ini diturunkan suasana di Muara Rupit maupun Rawas Ulu masih mencekam. Aparat kepolisian maupun TNI berjaga-jaga.
    Informasi yang dihimpun Sumatera Ekspres, kejadian tersebut bermula dari  tewasnya seorang warga bernama Herlika alias Heri (19), warga Dusun III, Desa Karang Anyar, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara. Heri ini, diduga merupakan anggota komplotan perampok Jalinsum (Jalan Lintas Sumatera) yang sering meresahkan warga. Bahkan, Polres Mura sudah memasukkannya dalam target operasi (TO) yang juga diduga bersama dengan kakaknya, Saiful. 
    Kapolres Mura, AKBP Chaidir melalui Kasatreskrim, AKP Erlangga mengatakan tersangka Heri digerebek timsus dan buser di area perkebunan karet,  Desa Karang Anyar, Kecamatan Rupit, sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, baik Heri maupun Saiful berusaha kabur. Bahkan, Heri sempat melawan petugas dengan menembakkan senpira (senjata api rakitan) hingga terjadi baku tembak.  “Kita sudah melakukan langkah prosedur. Karena tersangka melawan terpaksa anggota melumpuhkannya dengan timah panas hingga tewas mengenai lengan kanan dan tembus rusuk. Kalau tersangka Saiful berhasil meloloskan diri,” beber Erlangga.      Aksi pembakaran Polsek Rupit sendiri, dilakukan sekitar ratusan orang  diduga warga Desa Karang Anyar, tempat tinggal Heri. Ceritanya, massa dengan konvoi menggunakan motor dan mobil sekitar pukul 16.30 WIB,  bergerak ke arah polsek. Bahkan ada massa yang membawa jeriken berisi minyak.
     Sekitar 20 menit kemudian, massa tiba di halaman Polsek Rupit. Pukul 17.00 WIB, massa langsung beringas dan melakukan aksi pembakaran dengan menumpahkan jeriken berisi minyak ke seluruh sudut polsek.
    Saat itu, tak ada satu pun anggota polisi di lokasi. Sebab, Kapolsek dan anggotanya lebih dulu menyelamatkan diri dan diselamatkan warga.
    Nah, usai membakar Polsek Rupit, massa bergerak ke Polsek Rawas Ulu yang hanya berjarak sekitar setengah jam. Di sana, massa kembali melakukan pembakaran. Selanjutnya, mereka memblokir akses Jalinsum, tepatnya di depan akses masuk Desa Karang Anyar. 
    Aksi pemblokiran Jalinsum, juga berbuntut pada pembakaran dua unit mobil yang belum diketahui pemiliknya. Lantaran, hingga berita ini diturunkan, kondisi wilayah Kecamatan Rupit masih mencekam. Masyarakat sekitar lebih memilih berada di dalam rumah. 
    Dandim 0406 Kabupaten Mura-Kota Lubuklinggau, Letkol CZI Widyo Hartanto, menjelaskan, pihaknya menyesalkan aksi masyarakat yang melakukan pembakaran dan pemblokiran Jalinsum. Sebab, menggangu ketertiban dan keamanan. Namun, TNI AD melakukan pengamanan karena saat kejadian fungsi kepolisian belum berjalan. “TNI AD mengambil fungsi-fungsi kepolisian di bidang pengamanan selama terjadi permasalahan.  Kami tetap melakukan pengamanan dan malam ini juga (tadi malam) saya turun ke lokasi untuk melakukan mediasi. Karena aksi pemblokiran Jalinsum itu perbuatan yang merugikan masyarakat banyak,” tegasnya. Personel TNI AD yang diterjunkan ke lokasi ada dua kompi atau sekitar 200 orang. Mereka berasal dari  Kodim 142 dan Kodim 141.
    Terpisah,  Kapolres Mura, AKBP Chaidir menjelaskan pembakaran  Polsek Sementara Rupit dan Polsek Rupit yang lagi direhab serta Polsek Rawas Ulu merupakan buntut atas tewasnya seorang warga yang merupakan bandit jalinsum yang meresahkan masyarakat. “Penembakan pelaku sudah sesuai prosedur. Apalagi apa yang dilakukan aparat kepolisian menindaklanjuti keluhan-keluhan masyarakat,” jelasnya.
    Dari keluhan, sambung Chaidir, kepolisian membentuk tim khusus (Timsus). “Masyarakat  banyak ngeluh soal curas yang meresahkan. Salah satunya pelaku Heri. Dia melakukan perlawanan sehingga ditembak. Dan semua sudah sesuai prosedur. Nah, dalam penggerebekan itu salah satu pelaku yakni Saiful berhasil melarikan diri,” ujarnya.
    Chaidir menambahkan, atas penembakan pelaku tersebut terjadi isu yang dihembuskan oknum tidak bertanggung jawab. “Oleh pelaku (Saiful), penggerebekan itu dipelintir beritanya. Seolah-olah apa yang dilakukan aparat kepolisian salah tangkap. Isu ini menimbulkan gejolak di masyarakat sehingga terjadi aksi pembakaran mapolsek,” pungkasnya. (wek/ce1)
Share this article :