Universitas Baturaja
2012/2013
“Tugas Akhir Semester Kumpulan Resume Bab 1 – 12”
Nama : Ade Haryanto
NPM : 12-22-126
Dosen : Yeni Desmawati,
S. Si, M. Pd
BAB 1
HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Dalam
kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah terlepas dari kegiatan
belajar, baik ketika seseorang melakukan aktivitas sendiri, maupun di dalam
suatu kelompok tertentu. Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian
besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan kegiatan belajar.
Pengertian
belajar dapat kita temui dalam berbagai sumber atau literatur. Meskipun kita
lihat ada perbedaan-perbedaan dalam rumusan belajar tersebut dari masing-masing
ahli, namun secara prinsip kita menemukan kesamaanya.
Burton dalam
bukunya “The Guidance of Learning Avtivities”,merumuskan pengertian
belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antarindividu dan individu dengan lingkungannya sehingga mampu
berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam buku “Educational Psychology”, H.
C. Witherington mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam
kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian. Dalam kesimpulan
yang dikemukakan Abdillah, belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh
individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang
menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh
tujuan tertentu. (Aunurrahman, 2010: 35)
Gagne dalam
“Catharina Tri Anni”, belajar merupakan sebuah sistem yang di dalamnya
terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan
perilaku. James O. Whittaker mengemukakan bahwa belajar adalah proses di mana
tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui pengalaman.
Muhibbin Syah
dalam bukunya “Psikologi pendidikan”, mengemukakan bahwa belajar dapat
dipahami sebagai tahapan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap
sebagai hasil pengalaman dari interaksi dengan lingkungan yang melibatkan
proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian ini perlu dikemukakan sekali lagi
bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan
gila, mabuk, dan jenuh tidak dipandang sebagai proses belajar. (Muhibbin Syah:
2010)
M. Sobry
Sutikno dalam bukunya “Menuju Pendidikan Bermutu”,mengartikan belajar sebagai
suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam
lingkungannya. (M. Sobry Sutikno, 2011: 3)
Dari beberapa
definisi belajar, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian belajar ialah
adanya perubahan dan peningkatan seseorang dalam berbagai aspek dan suatu
proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di
dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sebagaimana
yang dikemukakan oleh H. R. Suparta dan Herry Noer Aly dalam bukunya “Metodologi
Pengajaran Agama Islam”, adanya kesepakatan di antara para ahli bahwa
perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah
melakukan perbuatan belajar. (H. R. Suparta dan Herry Noer Aly, 2008: 27)
2. Pengertian Pembelajaran
UU No. 20
Tahun 2003 tentang Sisdiknas, “Proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Dimyati dan
Mudjiono mengartikan pembelajaran sebagai kegiatan yang ditunjukan untuk
membelajarkan siswa. Dalam pengertian lain pembelajaran adalah usaha-usaha yang
terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar
dalam diri siswa. (Dimyati dan Mudjiono: 1999)
Arief S.
Sadiman mengartikan pembelajaran sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.
Pembelajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan pembelajar. (Arief S. Sadiman: 1990)
Gagne,
Briggs, Wegner dan Udin S. Winataputra mengemukakan sebagai “serangkaian
kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada
siswa”. (Udin S. Winataputra, dkk.: 2004)
B. Tujuan Belajar dan Pembelajaran
1. Tujuan Belajar
Gagne
menyebutkan ada lima macam hasil belajar, yaitu:
a. Keterampilan
intelektual atau keterampilan prosedural yang mencakup belajar diskriminasi,
konsep, prinsip dan pemecahan masalah yang semuanya diperoleh melalui materi
yang disajikan oleh guru di sekolah.
b. Strategi
kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan
mengatur proses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, belajar,
mengingat dan berpikir.
c. Informasi
verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan
jalan mengatur informasi-informasi yang relevan.
d. Keterampilan
motorik, yaitu kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan
gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot.
Sikap, yaitu
suatu kemampuan internal yang mempengaruhi tingkah laku seseorang didasari oleh
emosi, kepercayaan-kepercayaan serta faktor intelektual. (M. Sobry Sutikno,
2008: 6)
Dengan kalimat
yang sangat sederhana, bahwa tujuan belajar menurut hemat penulis adalah
sebagai berikut:
a. Pengumpulan
pengetahuan;
b. Penanaman
konsep dan kecekatan;
c. Pembentukan
sikap dan perbuatan.
2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan
pembelajaran pada dasarnya adalah kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki
siswa setelah memperoleh pengalaman belajar. Menurut Nana Sudjana dan Wari
Suwaria, kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek pengetahuan (kognitif),
sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor). Penguasaan kemampuan tersebut
tidak lain adalah hasil belajar yang diinginkan.
Tujuan dalam
pembelajaran merupakan suatu cita-cita yang bernilai normatif. Sebab dalam
tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada siswa. Nilai-nilai itulah
yang nantinya akan mewarnai cara siswa bersikap dan berbuat dalam lingkungan
sosial, baik di sekolah maupun di luar sekolah. (M. Sobry Sutikno, 2008: 37)
C. Ciri-Ciri Belajar dan Pembelajaran
1.
Ciri-ciri belajar
Terdapat beberapa ciri yang dapat kita ambil dari sejumlah pandangan dan
definisi tentang belajar. Adapun ciri-ciri umumnya adalah:
a. Belajar menunjukan suatu
aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau yang disengaja;
b. Belajar
merupakan interaksi individu dengan lingkungannya;
c. Hasil
belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku.
2. Ciri-ciri Pembelajaran
Oemar Hamalik memaparkan tiga ciri khas yang
terkandung dalam sistem pembelajaran, yaitu:
a. Rencana;
b. Saling
ketergantungan;
c. Tujuan
Selanjutnya ciri-ciri pembelajaran, lebih rinci sebagai berikut:
1. Memiliki
tujuan, yaitu membentuk siswa dalam suatu perkembangan tertentu;
2. Terdapat mekanisme, prosedur,
langkah-langkah, metode, dan teknik yang direncanakan dan dirancang untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
3. Fokus
materi jelas, terarah dan terencana dengan baik;
4. Adanya aktivitas siswa merupakan
syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar;
5. Aktor
guru yang cermat dan tepat;
6. Terdapat pola aturan yang ditaati
guru dan siswa dalam proporsi masing-masing;
7. Limit
waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran;
8. Evaluasi, baik evaluasi proses
maupun evaluasi produk. (M. Sobry Sutikno, 2008: 35)
BAB 2
MOTIVASI PEMBELAJARAN & BAHAN AJAR
Motivasi adalah suatu sugesti atau dorongan yang muncul
karena diberikan oleh seseorang kepada orang lain atau dari diri sendiri,
dorongan tersebut bermaksud agar orang tersebut menjadi orang yang lebih baik
dari yang sebelumnya. Motivasi juga bisa diartikan sebagai sebuah alasan yang
mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.
Berikut inilah beberapa Pengertian Motivasi:
1. Motivasi adalah kerakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen pada seseorang.
2. Motivasi adalah proses kesediaan melakukan usaha tingkat tinggi untuk mencapai sasaran tertentu yang bisa memuaskan kebutuhan.
Berikut inilah beberapa Pengertian Motivasi:
1. Motivasi adalah kerakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen pada seseorang.
2. Motivasi adalah proses kesediaan melakukan usaha tingkat tinggi untuk mencapai sasaran tertentu yang bisa memuaskan kebutuhan.
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik diwujudkan daripada rangsangan luaran dengan tujuan menggerakkan individu supaya melakukan sesuatu aktiviti yang membawa faedah kepadanya. Motivasi ekstrinsik ini dapat dirangsang dalam bentuk-bentuk seperti pujian, insentif, hadiah, gred dan membentuk suasana dan iklim persekitaran yang kondusif bagi mendorongkan pelajar belajar. Contohnya, pujian yang diberikan oleh guru kepada seseorang pelajar kerana kerjanya yang baik akan menyebabkan daya usaha pelajar itu meningkat. Peneguhan adalah suatu motivasi ekstrinsik yang boleh memberi kesan kepada tingkahlaku seseorang pelajar.
Di dalam kelas, guru perlu tahu jenis peneguhan yang hendak diberikan dan sekerap mana ia perlu diberikan. Ada peneguhan yang dapat diberikan dengan kerap, contohnya pujian sokongan ataupun pujukan. Menurut Kazdin(1984), peneguhan lebih berkesan sekiranya diberikan dengan kerap pada peringkat pembelajaran baru. Oleh itu, semasa pelajar mula mempelajari sesuatu tugasan yang baru, mereka sebaik-baiknya diberikan pujian dan sokongan dengan kerap. Hukuman ataupun deraan adalah suatu bentuk peneguhan negatif dan ia sebaik-baiknya tidak diberikan. Hukuman lazimnya digunakan oleh guru bagi menghapuskan kelakuan pelajar yang tidak baik.
Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik diwujudkan secara semula jadi daripada rangsangan dalaman. Ia terdiri daripada dorongan dan minat individu bagi melakukan sesuatu aktiviti tanpa mengharap ataupun meminta ganjaran. Sebagaimana yang sudah dibincangkan, Bruner (1966) mengaitkan motivasi intrinsik ini dengan naluri ingin tahu dan dorongan mencapai kecekapan bagi murid yang baru masuk sekolah. Bagaimanapun, bukan semua motivasi intrinsik diwujudkan secara semula jadi. Terdapat juga motivasi intrinsik dibentuk daripada pembelajaran dan pengalaman yang membawa kepuasan. Contohnya, tabiat membaca buku cerita dan bermain alat muzik adalah gerakan motivasi intrinsik yang dibentuk daripada pembelajaran dan pengalamannya. Harter (1981) mengenal pasti lima dimensi kecenderungan motivasi intrinsik dalam bidang pembelajaran. Dimensi-dimensi ini adalah cabaran, insentif bekerja bagi memuaskan minat dan sifat ingin tahu, percubaan penguasaan yang bebas, penilaian yang bebas berkenaan apa yang hendak dilakukan di dalam kelas dan kriteria dalaman untuk kejayaan.
Menurut Deci (1975), motivasi intrinsik dapat diterangkan sebagai suatu keadaan psikologi yang diakibatkan apabila individu menganggap diri mereka berkebolehan dan dapat menentukan sesuatu dengan sendiri. Seseorang itu mengalami motivasi intrinsik yang tinggi sekiranya dapat melakukan sesuatu yang digemari seperti memandu kereta, melawat tempat-tempat yang disukai, memilih tempat penginapan dan memilih makanan yang diidamkan. Sekiranya dia diberikan hadiah seperti lawatan ke tempat-tempat yang ditentukan oleh badan penganjur, tempat penginapan dan jenis makanan juga ditentukan oleh pihak itu, dia tidak mendapat peluang hendak menentukan segala-galanya sendiri. Oleh itu, motivasi intrinsiknya menjadi terlalu rendah.
Guru yang mahu meningkatkan motivasi intrinsik pelajar dalam bidang akademik perlu mewujudkan suasana akademik yang memberi peluang kepada pelajar mengawal. Guru juga perlu menentukan pelajar itu dapat melakukannya dengan cemerlang dalam keadaan itu. Walau bagaimanapun, perlu ditentukan terlebih dahulu yang pelajar itu mempunyai persepsi yang diri mereka berkebolehan. Sekiranya mereka tidak mempunyai persepsi seperti itu, peluang-peluang yang diberikan bagi mengawal tidak akan digunakan dengan sempurna.
Kaitan antara Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik
Setiap manusia dapat dimotivasikan secara intrinsik ataupun ekstrinsik. Individu yang bermotivasi intrinsik mempunyai dorongan dalaman. Mereka melakukan sesuatu atas kesedaran diri sendiri. Mereka tidak memerlukan unsur-unsur luar seperti orang lain ataupun peristiwa luar bagi menggiatkan mereka mencapai sesuatu matlamat. Mereka sendiri menentukan objektif dan seterusnya mencapai objektif itu.
Deci dan Ryan (1985) berpendapat, manusia akan bermotivasi intrinsik apabila mereka mempunyai persepsi ataupun konsep kendiri yang mereka berkebolehan dan mampu membuat keputusan sendiri. Sebaliknya, orang yang bermotivasi ekstrinsik tidak yakin mereka berkebolehan ataupun mampu membuat keputusan. Mereka bergantung pada orang lain dalam membuat keputusan dan melaksanakan tugasan mereka. Kadang-kadang mereka bekerjasama dengan orang lain yang lebih berkebolehan bagi mendapatkan kebaikan. Mereka juga kadang-kadang memberontak pada orang yang lebih berkebolehan.
Motivasi ekstrinsik diwujudkan daripada rangsangan luaran dengan tujuan menggerakkan individu supaya melakukan sesuatu aktiviti yang membawa faedah kepadanya. Motivasi ekstrinsik ini dapat dirangsang dalam bentuk-bentuk seperti pujian, insentif, hadiah, gred dan membentuk suasana dan iklim persekitaran yang kondusif bagi mendorongkan pelajar belajar. Contohnya, pujian yang diberikan oleh guru kepada seseorang pelajar kerana kerjanya yang baik akan menyebabkan daya usaha pelajar itu meningkat. Peneguhan adalah suatu motivasi ekstrinsik yang boleh memberi kesan kepada tingkahlaku seseorang pelajar.
Di dalam kelas, guru perlu tahu jenis peneguhan yang hendak diberikan dan sekerap mana ia perlu diberikan. Ada peneguhan yang dapat diberikan dengan kerap, contohnya pujian sokongan ataupun pujukan. Menurut Kazdin(1984), peneguhan lebih berkesan sekiranya diberikan dengan kerap pada peringkat pembelajaran baru. Oleh itu, semasa pelajar mula mempelajari sesuatu tugasan yang baru, mereka sebaik-baiknya diberikan pujian dan sokongan dengan kerap. Hukuman ataupun deraan adalah suatu bentuk peneguhan negatif dan ia sebaik-baiknya tidak diberikan. Hukuman lazimnya digunakan oleh guru bagi menghapuskan kelakuan pelajar yang tidak baik.
Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik diwujudkan secara semula jadi daripada rangsangan dalaman. Ia terdiri daripada dorongan dan minat individu bagi melakukan sesuatu aktiviti tanpa mengharap ataupun meminta ganjaran. Sebagaimana yang sudah dibincangkan, Bruner (1966) mengaitkan motivasi intrinsik ini dengan naluri ingin tahu dan dorongan mencapai kecekapan bagi murid yang baru masuk sekolah. Bagaimanapun, bukan semua motivasi intrinsik diwujudkan secara semula jadi. Terdapat juga motivasi intrinsik dibentuk daripada pembelajaran dan pengalaman yang membawa kepuasan. Contohnya, tabiat membaca buku cerita dan bermain alat muzik adalah gerakan motivasi intrinsik yang dibentuk daripada pembelajaran dan pengalamannya. Harter (1981) mengenal pasti lima dimensi kecenderungan motivasi intrinsik dalam bidang pembelajaran. Dimensi-dimensi ini adalah cabaran, insentif bekerja bagi memuaskan minat dan sifat ingin tahu, percubaan penguasaan yang bebas, penilaian yang bebas berkenaan apa yang hendak dilakukan di dalam kelas dan kriteria dalaman untuk kejayaan.
Menurut Deci (1975), motivasi intrinsik dapat diterangkan sebagai suatu keadaan psikologi yang diakibatkan apabila individu menganggap diri mereka berkebolehan dan dapat menentukan sesuatu dengan sendiri. Seseorang itu mengalami motivasi intrinsik yang tinggi sekiranya dapat melakukan sesuatu yang digemari seperti memandu kereta, melawat tempat-tempat yang disukai, memilih tempat penginapan dan memilih makanan yang diidamkan. Sekiranya dia diberikan hadiah seperti lawatan ke tempat-tempat yang ditentukan oleh badan penganjur, tempat penginapan dan jenis makanan juga ditentukan oleh pihak itu, dia tidak mendapat peluang hendak menentukan segala-galanya sendiri. Oleh itu, motivasi intrinsiknya menjadi terlalu rendah.
Guru yang mahu meningkatkan motivasi intrinsik pelajar dalam bidang akademik perlu mewujudkan suasana akademik yang memberi peluang kepada pelajar mengawal. Guru juga perlu menentukan pelajar itu dapat melakukannya dengan cemerlang dalam keadaan itu. Walau bagaimanapun, perlu ditentukan terlebih dahulu yang pelajar itu mempunyai persepsi yang diri mereka berkebolehan. Sekiranya mereka tidak mempunyai persepsi seperti itu, peluang-peluang yang diberikan bagi mengawal tidak akan digunakan dengan sempurna.
Kaitan antara Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik
Setiap manusia dapat dimotivasikan secara intrinsik ataupun ekstrinsik. Individu yang bermotivasi intrinsik mempunyai dorongan dalaman. Mereka melakukan sesuatu atas kesedaran diri sendiri. Mereka tidak memerlukan unsur-unsur luar seperti orang lain ataupun peristiwa luar bagi menggiatkan mereka mencapai sesuatu matlamat. Mereka sendiri menentukan objektif dan seterusnya mencapai objektif itu.
Deci dan Ryan (1985) berpendapat, manusia akan bermotivasi intrinsik apabila mereka mempunyai persepsi ataupun konsep kendiri yang mereka berkebolehan dan mampu membuat keputusan sendiri. Sebaliknya, orang yang bermotivasi ekstrinsik tidak yakin mereka berkebolehan ataupun mampu membuat keputusan. Mereka bergantung pada orang lain dalam membuat keputusan dan melaksanakan tugasan mereka. Kadang-kadang mereka bekerjasama dengan orang lain yang lebih berkebolehan bagi mendapatkan kebaikan. Mereka juga kadang-kadang memberontak pada orang yang lebih berkebolehan.
BAB 3
MEDIA PEMBELAJARAN DAN
BAHAN AJAR
A. MEDIA CETAK
Media cetak atau menurut Eric Barnow disebut “ printed
page” adalah meliputi segala barang yang dicetak, yang ditujukan
untuk umum atau untuk suatu publik tertentu. Dengan demikian yang dimaksud
adalah meliputi surat kabar, majalah, serta segala macam barang cetakan yang
ditujukan untuk menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi. Media cetak sendiri
pengertiannya adalah media statis yang mengutamakan pesan visual yang terdiri
dari lembaran, sejumlah kata gambar atau foto. Umumnya media cetak lini atas
yang digunakan sebagai media perikalanan adalah surat kabar dan majalah,
sedangkan media cetak lini bawah yang digunakan berupa leaflet, brosur, poster
dan sebagainya.
Media cetak bila digunakan sebagai media
penyampai pesan-pesan iklan, mengingat bahwa pesan-pesan iklan pada umumnya
adalah merupakan pesan-pesan yang bersifatpersuasive, maka akan nampak
jelas kelemahan-kelemahan yang melekat pada setiap jenis media cetak. Umpamanya
saja dari segi kelemahannya, ia tidak memiliki unsur bunyi suara manusia (human
voice) sebagaimana yang terdapat pada radio maupun televisi, yang
dapat menimbulkan rasa hangat dan keakraban yang berpengaruh terhadap tigkat
persuasi. Kelemahan umum media cetak sebagai media periklanan.
Menurut Eric Barnow, The printed page sebagai
media penyampai pesan yang berujud cetak punya beberapa kelemahan antara lain:
1. The printed page tidak mempunyai suara , jadi tidak bisa
menimbulkan kesan akrab sehingga kurang mampu menggugah emosi.
2. Yang bisa dicapai oleh printed page hanyalah mereka yang bisa
membaca, bahkan dalam printed tertentu pembacanya adalah orang – orang yang
berpendidikan.
3. Karena printed page dicetak, maka printed page menghendaki untuk
dibaca.
4. Jika radio, TV dan sebagainya bisa dinikmati oleh dua orang atau
lebih secara bersama-sama, maka pada printed page, hal ini kurang leluasa untuk
dilakukan.
Mengingat beberapa kelemahan media cetak seperti
diatas, maka para pemasang iklan yang menggunakan media cetak sebagai media
penyampai pesan-pesan iklannya harus meramu kata dan kalimat, juga punya
kemampuan lebih dalam memvisualisasikan produk. Gambar (visual) dan kata inilah
yang diharapkan mampu mempengaruhi target audience sehingga berbuat sebagaimana
yang disarankan oleh produsen barang dan jasa (pemasang iklan). Meskipun
memiliki kelemahan, namun media cetak juga memiliki kelebihan yang secara umum
meliputi:
1. Media cetak terdokumentasi ; bisa disimpan atau dicollect isi
informasinya.
2. Media cetak lebih terjangkau dari segi harga maupun distribusinya.
3. Media cetak lebih mampu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat
kompleks atau rigid.
Surat kabar (SK) hadir dalam berbagai bentuk
yang jenisnya dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti frekuensi terbit
(harian atau mingguan), bentuknya (tabloid atau koran), kelas ekonomi pembaca
(misal yellow paper untuk golongan ekonomi menegah ke bawah;
pos kota), peredarannya (nasional, regional atau lokal), penekanan isi (konomi,
kriminal atau umum).
B. MEDIA AUDIOVISUAL
Tahun 1970 ditemukan teknologi CCD (Charged
Caupled Device) menggantikan tabung citra vidicon. Kamera foto dan kamera
video berkembang sangat pesat berkat penemuan tersebut. Akhirnya hanya tinggal
teknik lensa saja yang hampir tidak berubah. Media penyimpan mengalami
perkembangan dan melahirkan banyak varian, di antaranya dalam bentuk pita (cassete),
cakram (disk), dan memori chip. Dengan demikian sinematografi tidak lagi
identik dengan media penyimpan film/selluloid. Masyarakat mulai risih menyebut
gambar hasil tangkapan dengan teknik sinematografi sebagai film karena media
penyimpannya memang bukan lagi film. CCD yang jauh lebih murah dibanding tabung
citra vidicon juga menyebabkan harga kamera menjadi murah, dengan demikian
penyebarannya menjadi lebih pesat.
BAB 4
MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah
disusun secara sistematis merupakan hal yang berperan penting bagi peserta
didik. Tujuan, bahan, proses dan evaluasi pendidikan tercantum di dalamnya, dan
hal itulah yang menjadi jaminan keberhasilan pendidikan bagi peserta didik.
Keberhasilan pendidikan tersebut salah satunya bisa dilihat dari terbentuknya
peserta didik yang mampu menghadapi perkembangan zaman beserta perkembangan
teknologinya. Untuk mempersiapkan peserta didik tersebut maka perlu untuk
melakukan pengembangan kurikulum pendidikan.
Pengembangan kurikulum
adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa
siswa ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana
perubahan-perubahan itu telah terjadi pada siswa. Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek
ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi dengan perkembangan
pendidikan. Tetapi pada kenyataannya manusia memiliki keterbatasan dalam
kemampuan menerima, menyampaikan dan mengoleh informasi, untuk itulah
dibutuhkan proses pengembangan kurikulum yang akurat, terseleksi dan memiliki
tingkat relevansi yang kuat. Dengan demikian, diperlukan suatu model
pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
Adapun macam-macam model pengembangan kurikulum dalam tulisan ini
oleh penulis akan dibagi sebagai berikut.
1. Ralp Tyler
Menurut Tyler, sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Idi, bahwa
sangat penting pendapat secara rasional, menganalisis, menginterpretasikan
kurikulum dan program pengajaran dari suatu lembaga pendidikan. Kemudian Tyler
juga menempatkan empat pertanyaan dalam mengembangkan kurikulum, yaitu:
a. What
educational purposes should the school seek to attain? (objectives)
b. What
educational experiences are likely to attain these objectives? (instructional
strategic and content/selecting learning experiences)
c. How
can these educational experiences be organized effectively? (organizing
learning experiences)
d. How
can we determine whether these purposes are being attain? (assessment and
evaluation).
Model pengembangan kurikulum Taba adalah model yang memodifikasi
model dasar Tyler. Adapun langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum
Taba adalah:
Step 1: Diagnosis of needs
Step 2: Formulation of objectives
Step 3: Selection of content
Step 4: Organization of content
Step 5: Selection of learning experiences
Step 6: Organization of learning experiences
Step 7: Determination of what to evaluate and of the ways and
means of doing it.
Pengembangan kurikulum
sebagai proses untuk memperbaiki serta mengembangkan program pengajaran,
merupakan hal yang wajib untuk dilaksanakan. Hal ini dilaksanakan untuk
mengimbangi perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi. Mengingat hal
tersebut maka dalam proses pengembangannya haruslah senantiasa memperhatikan
faktor-faktor masyarakat, yang salah satunya adalah peserta didik. Selain itu
faktor lingkungan juga berperan serta dalam menentukan pengembangan kurikulum.
Kenyataan di lapangan masih
ditemukan satuan pendidikan yang berusaha mengembangkan kurikulumnya tanpa
memperhatikan faktor-faktor tersebut. Mereka hanya menambahkan beberapa
kegiatan dan ekstrakurikuler dalam isinya tanpa mempertimbangkan
apakah hal tersebut bermanfaat bagi peserta didik atau tidak. Padahal
berdasarkan teori dalam mengembangkan kurikulum, peserta didik merupakan hal
yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai pertimbangan dalam
proses pengembangan kurikulum.
BAB 5
STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang
berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang
berbeda pula (Reigeluth, 1983; Degeng, 1989). Variabel strategi pembelajaran
diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :
1. Strategi Pengorganisasian
2. Strategi Penyampaian
3. Strategi Pengelolaan
A. STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN
Strategi pengorganisasian adalah cara untuk
membuat urutan (sequencing) dan mensintesis (synthesizing) fakta,
konsep, prosedur, dan prinsip yang berkaitan, suatu isi pembelajaran.Sequencing terkait
dengan cara pembuatan urutan penyajian isi suatu bidang studi, dan synthesizingterkait
dengan cara untuk menunjukkan kepada siswa hubungan / keterkaitan antara fakta,
konsep, prosedur, atau prinsip suatu isi pembelajaran.
Synthesizing bertujuan untuk membuat topik-topik dalam suatu bidang studi
menjadi lebih bermakna bagi siswa. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan
keterkaitan topik-topik itu terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Adanya
kebermaknaan tersebut akan menyebabkan siswa memiliki retensi yang lebih baik
dan lebih lama terhadap topik-topik yang dipelajari (Degeng, 1989). Penataan
urutan sangat penting artinya, karena amat diperlukan dalam pembuatan sintesis.
Sintesis yang efektif hanya dapat dibuat apabila isi telah ditata dengan cara
tertentu, dan yang lebih penting, karena pada hakikatnya semua isi bidang studi
memiliki prasyarat belajar (Degeng, 1989).
Strategi pengorganisasian dapat dipilah menjadi
dua, yaitu strategi mikro dan strategi makro (Reigeluth, 1983). Strategi
pengorganisasian makro adalah strategi untuk menata urutan keseluruhan isi
bidang studi, sedangkan strategi pengorganisasian mikro adalah strategi untuk
menata urutan sajian untuk suatu ide tunggal.
Sejumlah teori yang berurusan dengan strategi
mikro antara lain adalah teori penataan urutan berdasarkan prasyarat belajar
dari Gagne, model pembentukan konsep dari Taba, dan penguasaan konsep dari
Brunner. Untuk strategi makro, pengintegrasian sejumlah teori, seperti hierarki
belajar dari Gagne, teori skema dari Mayer, urutan subsumatif dari Ausubel, webteaching dari
Norman, dan teori elaborasi oleh Reigeluth.
B. STRATEGI PENYAMPAIAN PEMBELAJARAN
Uraian mengenai strategi penyampaian
pembelajaran menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan
pembelajaran, kegiatan apa yang dilakukan siswa, dan struktur belajar mengajar
bagaimana yang digunakan. Strategi penyampaian adalah cara-cara yang dipakai
untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa, dan sekaligus untuk menerima
serta merespon masukan-masukan dari siswa. Dengan demikian, strategi ini juga
dapat disebut sebagai strategi untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Gagne dan Briggs (1979) menyebut strategi ini
dengan delivery system, yang didefinisikan sebagai “the total of
all components necessary to make an instructional system operate as intended”.
Pada dasarnya strategi penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru, bahan
pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dalam
hal ini media pembelajaran merupakan satu komponen penting dari strategi
penyampaian pembelajaran. Itulah sebabnya, media pembelajaran merupakan bidang
kajian utama strategi ini (Degeng, 1989).
Menurut Degeng (1989) secara lengkap ada
komponen yang perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian,
yaitu sebagai berikut :
1. Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang
dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada siswa, baik berupa orang,
alat, atau pun bahan.
2. Interaksi siswa dengan media komponen strategi penyampaian pembelajaran yang
mengacu kepada kegiatan apa yang dilakukan oleh siswa dan bagaimana peranan
media dalam merangsang kegiatan daerah.
3. Struktur belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian
pembelajaran yang mengacu kepada apakah siswa belajar dalam kelompok besar,
kelompok kecil, peseorangan, ataukah belajar sendiri.
C. STRATEGI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Strategi pengelolaan pembelajaran sangat penting
dalam sistem strategi pembelajaran secara keseluruhan. Bagaimanapun baiknya
perencanaan strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian pembelajaran,
namun jika strategi pengelolaan tidak diperhatikan maka efektivitas
pembelajaran tidak bisa maksimal. Pada dasarnya strategi pengelolaan
pembelajaran terkait denganusaha penataan interaksi antarsiswa dengan komponen
strategi pembelajaran yang terkait, baik berupa strategi pengorganisasian
maupun strategi penyampaian pembelajaran.
Strategi pengelolaan berkaitan dengan penetapan
kapan suatu strategi atau komponen strategi tepat dipakai dalam suatu situasi
pembelajaran (Degeng, 1989). Menurut Degeng (1989) paling tidak ada empat hal
yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu :
1. Penjadwalan penggunaan
strategi pembelajaran
Dalam setiap pembelajaran, guru harus mampu
meramu berbagai strategi pembalajaran sehingga menjadi satu kesatuan yang tepat
untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu guru dituntut untuk
mampu merancang tentang kapan, apa, berapa kali suatu strategi pembelajaran
digunakan dalam suatu pembelajaran. Untuk menentukan strategi apa, kapan, dan
berapa kali suatu strategi digunakan tentu sangat berhubungan dengan kondisi
pembelajaran yang ada.
2. Pembuatan catatan
kemajuan belajar siswa
Catatan kemajuan belajr siswa sangat penting
bagi guru, karena untuk melihat efektivitas dan efisiensi pembelajaran yang
dilakukan. Dari hasil analisis terhadap efektivitas dan efisiensi pembelajaran,
guru akan dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya, seprti (1) apakah
strategi pembelajaran yang digunakan telah sesuai/belum, (2) apakah rendahnya
hasil belajar siswa disebabkan oleh faktor guru/siswa, (3) apakah penjadwalan
strategi pembelajaran sudah sesuai/belum, dan lain sebagainya.
3. Pengelolaan motivasional
Menurut Degeng (1989) peranan strategi
penyampaian untuk meningkatkan motivasi belajar jauh lebih nyata dari strategi
pengorganisasian. Mengingat hal tersebut, seorang guru harus mampu
mengembangkan kiat-kiat khusu dalam melakukan penjadwalan penggunaan strategi
penyampaian.
4. Kontrol
belajar
Kontrol belajar terkait dengan kebebasan
siswa untuk melakukan pilihan pada bagian isi yang dipelajari,vkecepatan
belajar, komponen strategi pembelajaran yang dipakai dan strategi kognitif yang
digunakan (Degeng,1989). Agar siswa dalam kegiatan pembelajaran siswa dapat
melakukan piliahan-pilihan tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang
kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan berbagai alternatif pilihan belajar
bagi siswa.
BAB 6
STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,
langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan
pembelajaran. Terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat
pada guru (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai
dengan metode yang berpusat pada siswa (discovery/ inquiry), seperti
eksperimen.
1. Metode ceramah merupakan
penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas.
2. Metode
tanya jawab merupakan metode mengajar dimana guru menanyakan
hal-hal yang sifatnya faktual.
3. Metode diskusi,
guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya menggunakan informasi
yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu masalah.
4. Metode kerja
kelompok, dengan metode ini siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai
suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.
5. Metode demonstrasi
dan eksperimen, dengan demonstrasi guru atau narasumber atau siswa
mengadakan suatu percobaan.
6. Metode sosiodrama
dan bermain peran merupakan metode mengajar dengan cara
mendramatisasikan masalah-masalah hubungan sosial. Merupakan suatu cara
penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan
siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan
memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
7. Metode pemberian
tugas belajar dan resitasi, dengan metode ini guru memberikan tugas,
siswa mempelajari kemudian melaporkan hasilnya.
8. Metode karyawisata,
merupakan suatu metode mengajar di mana guru mengajak siswa ke suatu objek
tertentu dalam kaitannya dengan mata pelajaran di sekolah.
9. Drill atau
pemberian latihan merupakan cara mengajar dengan memberikan
latihan-latihan terhadap apa yang dipelajari.
10. Metode debat,
merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan
kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan
kontra.
11. Metode Pemecahan
Masalah (Problem Solving) adalah penggunaan metode dalam
kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah
baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk
dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Memusatkan pada masalah
kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah,
mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
12. Cooperative
Script, adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan
dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
13. Picture and
Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan
dipasangkan/ diurutkan menjadi urutan logis.
14. Metode Jigsaw, dalam
metode ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen
lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar
kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota
bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/ subtopik yang ditugaskan
guru dengan sebaik-baiknya.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, strategi
bermakna sebagai rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus. Strategi dapat diartikan pula sebagai upaya untuk mensiasati agar
tujuan suatu kegiatan dapat tercapai.
Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia berisi
segala sesuatu yang dapat digunakan dalam menyusun rencana pembelajaran bahasa
Indonesia secara cermat yang mengacu pada tujuan pembelajaran.
Agar pembelajaran berbahasa memperoleh hasil
yang baik, strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi kriteria
berikut.
1) Relevan dengan tujuan pembelajaran
2) Menantang dan merangsang siswa untuk belajar
3) Mengembangkan kreativitas siswa secara
individual ataupun kelompok.
4) Memudahkan siswa memahami materi pelajaran
5) Mengarahkan aktivitas belajar siswa kepada
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
6) Mudah diterapkan dan tidak menuntut
disediakannya peralatan yang rumit.
7) Menciptakan suasana belajar mengajar yang
menyenangkan.
BAB 7
STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI ,
DRILLING DAN PROBLEM SOLVING
Demonstrasi merupakan metode yang sangat
efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri
berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode
penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa
tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya
sekadar tiruan.
Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak
terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses
demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi
dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran,
demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran
ekspositori dan inkuiri.
Langkah-langkah
Menggunakan Metode Demonstrasi
a.Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ada
beberapa hal yang harus dilakukan:
1) Rumuskan tujuan yang
harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
2) Persiapkan garis
besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
3) Lakukan uji coba
demonstrasi.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Langkah pembukaan.
Sebelum demonstrasi
dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:
a) Aturlah tempat duduk
yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang
didemonstrasikan.
b) Kemukakan tujuan apa
yang harus dicapai oleh siswa.
c) Kemukakan tugas-tugas
apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat
hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
2) Langkah pelaksanaan demonstrasi.
a) Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa
untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaanpertanyaan yang mengandung teka-teki
sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
b) Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana
yang menegangkan.
c) Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi
dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
d) Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan
lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
Metode latihan pada umumnya digunakan untuk
memeperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari.
Mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berpiki,
maka hendaknya guru/pengajar memperhatikan tingkat kewajaran dari metode Drill.
1. Latihan, wajar digunakan untuk hal-hal yang
bersifat motorik, seperti menulis
permainan, pembuatan, dan lain-lain.
2. Untuk melatih kecakapan mental, misalnya
perhitungan penggunaan rumus-
rumus, dan lain-lain.
3. Untuk melatih hubungan, tanggapan, seperti
penggunaan bahasa, grafik, simbul
peta, dan
lain-lain.
Metode problem solving adalah penggunaan metode dalam kegiatan
pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu
masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan
sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi
dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Metode problem solving adalah salah satu metode
mengajar yang digunakan oleh guru dalam kegiatan proses pembelajaran. Metode
problem solving ini merupakan metode mengajar untuk menstimulasi peserta didik
dalam berpikir yang dimulai dan mencari data sampai merumuskan kesimpulan,
sehingga dengan metode problem solving ini peserta didik dapat memberi makna
apa yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran.
Langkah-langkah metode problem
solving.
BAB 8
Strategi Dan Metode Pembelajaran
PENILAIAN KELAS (CLASSROOM ASSESMENT)
Menurut Angelo (1991: 17) Classroom Assessment
is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how
well their students are learning what they are being taught. (Penilaian Kelas
adalah suatu metode yang sederhana dapat menggunakan fakultas (sekolah) untuk
mengumpulkan umpan balik, awal dan setelahnya, pada seberapa baik para siswa
mereka belajar apa yang mereka ajarkan.
DEMONSTRASI
Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk
membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu
langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan
kepada peserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan:
demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil
untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya,
setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai
hasil, peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat,
melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan
dengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.
SIMULASI
Metode simulasi adalah bentuk metode praktek
yang sifatnya untuk mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan
mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke
dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan
praktek di dalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek
penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan
terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam
simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya
(replikasi kenyataan).
DISKUSI UMUM
Metode ini bertujuan untuk tukar menukar
gagasan, pemikiran, informasi/pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai
kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai
kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk
meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis
sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan
(ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain.
CERAMAH BERVARIASI.
Adalah model cerama cengan
mnggunakan gaya bahasa, intonasi, suara yang bervariasi atau berbeda-beda
FEEDBACK PARTNER (UMPAN BALIK)
Umpan balik mempunyai peraan yang penting, baik
bagi siswa maupun bagi guru. Pengertian umpan balik dalam kajian ini adalah
pemberian informasi mengenai benar atau tidaknya jawaban siswa atas
soal/pertanyaan yang diberikan, disertai dengan informasi tambahan berupa
penjelasan letak kesalahan atau pemberian motivasi verbal/tertulis. Melalui
umpan balik ini, seorang siswa dapat mengetahui sejauh mana bahan yang telah
diajarkan dapat dikuasainya. Dengan umpan balik itu pula siswa dapat mengoresi
kemampuan diri sendiri, atau dengan kata lain sebagai sarana korektif terhadap
kemajuan belajar siswa itu sendiri.
Sedangkan bagi guru, dengan umpan balik ia dapat mengetahui serta
enilai sejauh mana materi yang diajarkannya telah dikuasai oleh siswa
(Rooijakkers, 1984:23).
PEMODELAN (MODELING)
Dalam sebuah pelajaran selalu ada model yang
bisa ditiru. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Dalam
pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan
melibatkan siswa. Model juga dapat di datangkan dari luar (Guru tamu)
BAB 9
PENDEKATAN CARA BELAJAR SISWA AKTIF SUMBER BELAJAR
Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA adalah
pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif
terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa
memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif,
afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang
tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan
aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif
pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip.
1.
Berdasarkan
pengelompokan siswa
Strategi
belajar-mengajar yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan tujuan
pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar
secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar
secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta
perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih
efektif.
2.
Berdasarkan
kecepatan Masing-Masing siswa
Pada saat-saat tertentu
siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini
memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan
bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh
untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran
modul.
3.
Pengelompokan
berdasarkan kemampuan
Pengelompokan yang
homogin dan didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran
untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satu kelompok maka hal
ini mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila
berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
4.
Pengelompokkan
berdasarkan persamaan minat
Pada suatu guru perlu
memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat.
Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada
suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
5.
Berdasarkan
domein-domein tujuan
Strategi
belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein
ialah:
· Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek
cipta.
· Domein afektif, aspek sikap.
· Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.
Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan
ialah:
1) Keterampilan intelektual.
2) Strategi kognitif.
3) Informasi verbal.
4) Keterampilan motorik.
5) Sikap dan nilai.
BAB 10
HAKIKAT ANAK DIDIK
Pandangan Psikoanalitik
Brend mengemukakan bahwa struktur kepribadian individu seseorang
itu terdiri dari tiga komponen yakni: id, ego dan super-ego.
Id atau Das Es adalah aspek biologis kepribadian yang orisinil.
Id meliputi berbagai insting manusia yang mendasari perkembangan individu. Dua
insting yang penting adalah insting seksual dan agresi.
Ego atau das ich merupakan aspek psikologis ke pribadian
yang timbul dari kebutuhan organisme untuk dapat berhubungan dengan dunia luar
secara realistis.
Super-ego atau das uber ich adalah apek sosiologis kepribadian yang
merupakan wakil nilai-nilai serta cita-cita masyarakat menurut tafsiran orang
tua kepada anak-anaknya, yang diajarkan dengan berbagai perintah dan larangan.
Super-ego lebih merupakan hal yang bersifat ideal dari pada hal yang riil,
lebih merupakan kesempurnaan dari pada kesenangan.
Dalam dinamika dan realitas kehidupan pribadi, id lebih cendrung
pada nafsu, sedangkan super-ego lebih cendrung kepada hal-hal yang moralis.
Kemudian agar tercipta keseimbangan hidup, maka id dan super ego harus
dijembatani hal yang bersifat realistik, yakni ego/ das ich.
2. Pandangan
Humanistik
Rogers, tokoh dari pandangan humanistik, berpendapat bahwa manusia
memiliki dorongan untuk mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif. Manusia itu
rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Manusia adalah individu dan
menjadi anggota masyarakat yang dapat bertingkah laku secara memuaskan.
Kemudian Adler yang juga
pendukung pandangan humanistik, berpendapat bahwa manusia tidak semata-mata
digerakkan oleh dorongan untuk memuaskan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi
manusia digerakkan dalam hidupnya sebagian oleh rasa tanggung jawab sosial dan
sebagian lagi oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu.
3. Pandangan Martin
Buber
Manusia merupakan suatu data keberadaan yang
berpotensi, namun diharapkan pada kesemestaan alam, sehingga, manusia itu
terbatas. Keterbatasan ini bukanlah keterbatasan yang esensial, tetapi
keterbatsan faktual.
4. Pandangan behavioristik
Pandangan dari kaum behavioristik pada dasarnya menganggap bahwa
manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh
faktor-faktor yang datang dari luar.
Hakikat anak didik adalah manusia dengan segala
dimensinya seperti diuraikan melalui berbagai pandangan tentang manusia seperti
di atas. Manusia adalah sentral dalam setiap aktivitas. Oleh karena dalam
kegiatan belajar, manusia adalah subjek belajar.
Dari ke empat pandangan manusia tersebut ada
beberapa pengertian pokok yang sangat relevan untuk memahami hakikat anak didik
sebagai subjek belajar. Pengertian-pengertian pokok itu adalah sebagai berikut:
a. Manusia pada dasarnya
memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya.
b. Dalam diri manusia ada fungsi
yang bersifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan
sosial individu.
b. Manusia mampu mengarahkan
dirinya ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu
menentukan nasibnya sendiri.
c. Manusia pada
hakikatnya dalam proses “menjadi”, akan berkembang terus.
d. Dalam dinamika kehidupan
individu selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya
sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik.
e. Manusia merupakan
suatu keberadaan berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan. Tetapi
potensi itu bersifat terbatas.
f. Manusia adalah makhluk
tuhan, yang sekaligus mengandung kemungkinan “baik” dan “buruk”.
g. Lingkungan adalah penentu
tingkah laku manusia dan tingkah laku itu merupakan kemampuan yang dipelajari.
B. ANAK
DIDIK SEBAGAI SUBJEK BELAJAR
Siswa atau anak didik adalah salah satu komponen
manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar-mengajar. Didalam
proses belajar-mengajar, siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita,
memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa atau anak
didik itu akan menjadi faktor “penentu” sehingga menuntut dan dapat
mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
BAB 11
KEDUDUKAN GURU
Kedudukan guru
Dalam
ilmu Sosiologi kita biasa menemukan dua istilah yang akan selalu berkaitan,
yakni ‘’status’’ (merupakan sebuah peringkat, kedudukan
atau posisi seseorang dalam suatu kelompok, atau posisi suatu kelompok dalam
hubungannya dengan kelompok lain) dan ‘’peran sosial’’ (merupakan
sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status
tertentu tersebut) di dalam masyarakat.
Status
sebagai guru, atau kedudukan sebagai guru dapat dipandang sebagai yang tinggi
atau rendah, tergantung di mana ia berada. Sedangkan perannya yang berkedudukan
sebagai pendidik seharusnya menunjukkan kelakuan yang layak sesuai harapan
masyarakat, dan guru diharapkan berperan sebagai teladan dan rujukan dalam
masyarakat dan khususnya anak didik yang dia ajar.Guru tidak hanya memiliki
satu peran saja, ia bisa berperan sebagai orang yang dewasa, sebagai seorang
pengajar dan sebagai seorang pendidik, sebagai pemberi contoh dan
sebagainya.
seorang
guru, bisa juga dikatakan sebagai :
1. Seorang
Pendidik
2. Seorang
Pengajar
3. Seorang
Pembimbing
4. Seorang
Pengarah
5. Seorang
Pelatih
6. Seorang
Penilai dan
7. Seorang
Pengevaluasi (evaluator) bagi peserta didik.
Atau bisa dikatakan juga
bahwa guru adalah sebagai ‘’Subyek’’ (Pelaku pendidikan),
sedangkan Peserta didik adalah sebagai‘’Obyek’’ (Sasaran
pendidikan).
Peranan guru terhadap murid-muridnya merupakan
peran vital dari sekian banyak peran yang harus ia jalani. Hal ini dikarenakan
komunitas utama yang menjadi wilayah tugas guru adalah di dalam kelas untuk
memberikan keteladanan, pengalaman serta ilmu pengetahuan kepada mereka.
Begitupun peranan guru atas murid-muridnya tadi bisa dibagi menjadi dua jenis
menurut situasi interaksi sosial yang mereka hadapi, yakni : (1). Situasi formal dalam proses belajar mengajar di kelas
dan, (2). Situasi
informal di luar kelas.
Pertama : Asosiasi atau classical conditioning ini
berdasarkan dari percobaan yang dilakukan Pavlov pada seekor anjing. Anjing
tersebut belajar mengeluarkan air liur pada saat bel berbunyi karena sebelumnya
disajikan daging setiap saat terdengar bel. Setelah beberapa saat, anjing itu
akan mengeluarkan air liur bila terdengar bunyi bel meskipun tidak disajikan
daging, karena anjing tadi mengasosiasikan bel dengan daging. Kita juga belajar
berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata “Nazi” biasanya diasosiasikan
dengan kejahatan yang mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena
kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.
Kedua : Reinforcement, orang belajar menampilkan
perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan
dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang
disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar
membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si
pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak-haknya.
Seorang mahasiswa juga mungkin belajar untuk tidak menentang sang professor di
kelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang professor selalu
mengerutkan dahi, tampak marah dan membentaknya kembali.
Ketiga : Imitasi. Seringkali orang mempelajari
sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi
model.Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan
meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak remaja mungkin menentukan
sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka selama kampanye
pemilihan umum. Imitasi ini bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal
dan hanya melalui observasi biasa terhadap model.
BAB 12
PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan kelas berdiri dari dua kata yaitu :
pengelolaan dan kelas
Kata Pengelolaan adalah berasal dari kata “kelola” ditambah awalan “pe dan an”. Istilah lain dari pengelolaan kelas menagemen yang berarti tata pimpinan pengelolan.
Kata Pengelolaan adalah berasal dari kata “kelola” ditambah awalan “pe dan an”. Istilah lain dari pengelolaan kelas menagemen yang berarti tata pimpinan pengelolan.
Sedangakan kelas menurut ‘’ UMAR HAMALIK (1987;311)’’ adalah kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang dapat pengajaran dari guru . “SUHARSIMI ARIKUNTO” berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar / yang membantu dengan maksud agar di capai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajarsiswa dapat berjalan dengan lancar dan terciptanya kondisi belajar yang optimal untuk berlangsungnya kegiatan belajar siswa.
Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah
penyediaan fasilitas bagi bermacam –macam kegiatan belajar siswa dalam
lingkungan social . Suharsimi Arikunto ,(1988:68) berpendapat bahwa bertujuan
pengelolaan adalah agar setiap anak dikelas padat bekerja dengan tertib
sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien tujuan
pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan
pendidikan sebagai guru kita harus sadar tanpa mengelola kelas dengan baik maka
akan menghambat kegiatan belajar mengajar.
PENGATURAN KELAS
Tugas utama guru adalah
menciptakan suasana didalam kelas agar terjadi interaksi belajar mengajar yang
dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan bersungguh-sungguh. Dalam
kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil
tidaknya pengajaran, dalam arti tercapainya tujuan-tujuan intruksional,
sangat bergantung kepada kemampuan mengatur kelas. Untuk menciptakan suasana
yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan
lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam
belajar, diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Pengorganisasian kelas
adalah suatu rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan
organisasi kelas yang efektif, misalnya :
o Pengaturan
penggunaan waktu yang tersedia untuk setiap pelajaran.
o Pengaturan ruangan dan perabotan pelajaran dikelas agar
tercipta suasana yang menggairahkan dalam belajar.
o Pengelompokan siswa dalam belajar disesuaikan dengan minat
dan kebutuhan siswa itu sendiri.
PENERAPAN SUATU SISTEM DALAM MENGELOLA KELAS
1. Teknik
mendekati. Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang
biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru bisa membuatnya
takut, dan karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang disruptif ,
tanpa perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan kecenderungan berbuat
nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat berefek preventif.
2. Teknik
memberikan isyarat. Apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat
memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi isyarat tersebut dapat berupa
petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3. Teknik
mengadakan humor. Jika insiden itu kecil, setidaknya guru memandang
efek saja, dengan melihatnya secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan
suasana baik, serta memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu
tentang apa yang akan terjadi.
4. Teknik
tidak mengacuhkan. Untuk menerapkan cara ini guru harus lues dan
tidak perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus
tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk di
perhatikan.
5. Teknik
yang keras. Guru dapat menggunakan teknik-teknik yang keras apabila ia
di hadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak terkendalikan. Contohnya
mengeluarkannya dalam kelas.
6. Teknik
mengadakan diskusi secara terbuka. Bila kenakalan di kelas mulai
bertambah, sering guru menjadi heran. ia lalu menilai kembali tindakan dan
pengajarannya. untuk menjelaskan perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan
menciptakan suasana belajar yang sedikit lebih sesuai daripada sebelumnya.
7. Teknik
memberikan penjelasan tentang prosedur. Kadang-kadang masalah
kedisiplinan ada hubungannya yang langsung dengan ketidakmampuan siswa
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Kesulitan ini terjadi apbila guru
berasumsi bahwa siswa memiliki keterampilan, padahal sebenarnya tidak. masalah
yang hampir sama yaitu masalah-masalah perilaku yang lazimnya berhubungan
dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dikelas.
8. Mengadakan
analisis. Kadang-kadang terjadi hampir terus menerus berbuat
kenakalan, guru dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya dan mengurangi
keresahan siswanya.
9. Mengadakan
perubahan kegiatan. Apabila gangguan dikelas meningkat jumlahnya,
tindakan yang harus segera di ambil yaitu mengubah apa yang sedang anda
lakukan. Jika biasanya diskusi, maka ubahlah dengan memberikan
ringkasan-ringkasan untuk dibaca atau menyuruh mereka membaca buku-buku pilihan
mereka.
10. Teknik
menghimbau. Kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”.
Ucapan tersebut adakalanya membawa hasil; siswa memperhatikannya. Tetapi
apabila himbauan sering digunakan mereka cenderung untuk tidak menggubrisnya.
Sumber :
Pengelolaan
Kelas - http://teh.xidsoft.com/ruydps
Hakekeat Anak Didik -
http://tinyurl.com/leeyp2j
Kedudukan Guru - http://tinyurl.com/mq2z63j
Semua Sumber 1 – 9 – http://xidsoft.com/belajar/file/
